Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Memuat...

Rabu, 22 Oktober 2008

Petani Sawit Diimbau Tidak Bertindak Emosional

PEKANBARU-Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit semakin memburuk. Kini tak hanya harga jual sawit milik petani mandiri saja yang merosot ke kisaran Rp300 per-kilogram, tetapi juga di kelompok petani yang bermitra dengan pabrik kelapa sawit (PKS). Satu kilogram TBS kini menjadi Rp823 atau turun sebesar Rp224/kg dari harga sebelumnya yang Rp1.047/kg. Penurunan harga TBS ini berdasarkan rapat tim penetapan harga pembelian TBS Kelapa Sawit yang berlangsung di Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Selasa (21/10) kemarin. Ketua Tim Pelaksana rapat penetapan harga Ir Feri Hc MSi, yang juga Kasubdin Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Provinsi Riau, ketika ditemui, mengatakan, penurunan harga TBS ini karena harga CPO di pasaran juga mengalami penurunan, yakni hanya Rp3.947/kg. Lebih lanjut diungkapkannya, selain untuk sawit berusia 10 tahun ke atas tadi, dari hasil rapat juga ditetapkan harga TBS kelapa sawit umur tiga tahun sebesar Rp589,20/kg, umur 4 tahun 658,2/kg, umur lima tahun 704,42. Kemudian umur enam tahun Rp724,92/kg, umur 7 tahun 752,65/kg, umur 8 tahun Rp 776,1/kg, umur 9 tahun Rp800,89/kg.

"Penurunan harga CPO yang mengakibatkan penurunan harga TBS ini merupakan dampak dari krisis global yang terjadi saat ini. Permintaan CPO di pasar dunia saat ini berlebih, sementara produksi tetap, bahkan cendrung meningkat, sehingga harga TBS turun," ujarnya. Lebih jauh dikatakannya, turunnya harga TBS saat ini bukan saja terjadi di Riau atau di Indonesia, tetapi juga dirasakan oleh negara lain yang memproduksi kelapa sawit. "Di Malaysia misalnya, saat ini juga turun, bahkan mencapai titik terendah di Asia," ujarnya.

Jangan Emosional
Sementara Mawardi, salah seorang perwakilan petani dari KUD Sialang Makmur yang bermitra dengan PT Sumber Sawit Sejahtera, mengaku tidak dapat berbuat banyak terhadap penurunan harga TBS tersebut. "Kenyataannya harga CPO saat ini turun, tentunya juga berdampak terhadap turunnya harga TBS petani. Jadi mau bagaimana lagi, mau kesal-kesal sama siapa," ujarnya seusai rapat penetapan harga tersebut. Terhadap harga tersebut menurutnya, petani dan PKS yang bermitra selama ini tetap konsisten dengan harga yang ditetapkan tersebut. "Kami selaku petani yang bermitra dengan PKS selalu konsisten dengan harga yang ditetapkan itu, tidak ada yang menjual atau membeli dengan harga di bawah itu, apalagi sampai Rp300/kgnya. Entah kalau itu petani yang tidak bermitra kami tidak tahu," ujar Mawardi yang juga Sekum Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit PIR (Aspekpir) Riau ini.

Ia sendiri berharap kepada para petani untuk tidak menyikapi anjloknya harga sawit secara emosional dengan tidak memanennya. Apalagi sampai tidak melakukan pemupukan terhadap tanaman tersebut dengan alasan rugi. "Meski harga turun, produksi tetap kita tingkatkan dengan tetap melakukan pemupukan dan pemeliharaan sebagaimana mestinya. Jika pemupukan ditunda, apalagi sampai tidak melakukannya, tentunya kualitas TBS akan buruk dan harga akan semakin anjlok lagi," ujarnya.

Disiasati
Disebutkannya, turunnya harga TBS memang berdampak terhadap petani kelapa sawit dan juga biaya operasional. Namun menurutnya dapat disikapi dengan menurunkan biaya-biaya lainnya, tetapi bukan untuk pemupukan atau pemeliharaan. Selaku pengurus KUD ia mengaku akan terus melakukan pengawasan terhadap kebutuhan petani terhadap pupuk tersebut dan melakukan pembinaan agar kualitas produksi dapat terus ditingkatkan. Selaku pengurus KUD dan juga petani yang bermitra dengan PT Sumber Sawit Sejahtera di Sorek menurutnya, ada beberapa cara untuk meningkatkan produksi dengan biaya yang tidak bertambah. Di antaranya, saat ini ada kebijakan dari PT SSS bahwa jang-jangan kosong (sisa TBS) dikembalikan kepada petani untuk dijadikan pupuk melalui Aspek Pir yang ada.

"Ini tentunya sangat membantu, jika tidak maka 64.000 KK yang ada di 18 Kebun PT SSS akan mengalami kesulitan," ujarnya. Selain itu Mawardi mengimbau kepada petani kelapa sawit yang ada agar berusaha menekan kebutuhan hidup yang dinilai belum waktunya. "Selama ini petani terlena dengan tingginya harga TBS yang mencapai Rp2 ribu lebih beberapa waktu lalu, sehingga banyak petani yang meningkatkan kebutuhan hidupnya seperti membeli mobil, motor dan lainnya. Saat ini tentunya petani dapat mengubah perilaku tersebut, dan menyadari bahwa harga TBS tersebut sewaktu-waktu berubah, dan juga mengubah polanya dengan tidak membeli kebutuhan yang dirasakan belum waktunya," ujarnya. (hen)







Tidak ada komentar: