Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Memuat...

Rabu, 15 Oktober 2008

Harga Produk Pertanian Berjatuhan

Harga Produk Pertanian Berjatuhan
Rabu, 15 Oktober 2008 | 01:19 WIB

ANDREAS MARYOTO

Hanya dalam hitungan bulan mimpi indah para investor untuk meraup untung besar dengan menanam uang di bisnis pertanian, terutama perkebunan, terhenti untuk waktu yang belum jelas. Krisis keuangan global sudah mulai berdampak pada perdagangan komoditas pertanian.

Harga komoditas seperti jagung, kedelai, gula, dan gandum telah turun setelah pasar memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi penurunan permintaan. Harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah turun dipastikan akan makin tertekan.

Pasar komoditas dunia dikabarkan tidak terpengaruh oleh upaya-upaya yang dilakukan AS dalam menangani krisis keuangan. Investor merespons situasi ini dengan berjaga-jaga, salah satunya mengurangi permintaan sejumlah komoditas itu untuk beberapa bulan ke depan.

Harga jagung di Chicago Board of Trade untuk pengiriman Desember telah turun 6,61 persen (menjadi 4,24 dollar AS per gantang). Harga jagung turun menyusul penurunan permintaan komoditas itu untuk etanol. Penurunan produksi etanol terkait langsung dengan harga minyak yang juga turun.

Kecenderungan harga jagung yang turun akan memukul petani jagung di dalam negeri. Sejak dua tahun lalu petani bergairah menanam jagung karena harga yang terus membaik dari semula sekitar Rp 800 per kg menjadi Rp 2.600 per kg. Sejumlah pemodal besar juga memasuki bisnis ini karena sejak semula bisnis jagung diduga akan terus membaik seiring dengan kenaikan harga minyak.

Proyeksi produksi jagung yang memperkirakan produksi akan naik dipastikan makin menekan harga jagung. Departemen Pertanian AS (USDA) dalam proyeksi produksi jagung di AS yang terbaru menyebutkan, perkiraan produksi tahun ini mencapai 12,2 miliar gantang. Angka ini lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya yang hanya sekitar 12,1 miliar gantang.

USDA sudah mengingatkan soal kemungkinan penurunan harga akibat kenaikan pasokan. Meski demikian, mekanisme pengendalian harga yang dilakukan AS dalam membantu petani mungkin masih bisa mencegah kejatuhan drastis harga jagung.

Harga gula juga mengalami penurunan drastis. Di bursa London (LIFFE) harga gula (white sugar) pada Agustus mencapai puncak mendekati 440 dollar AS per ton, tetapi pada akhir pekan lalu anjlok di bawah 340 dollar AS per ton.

Saat ini Indonesia masih tergantung pada gula impor, maka penurunan harga turut menekan harga gula produksi di dalam negeri. Kemungkinan penyelundupan gula perlu diwaspadai karena harga gula impor menjadi sangat murah. Harga di dalam negeri saat ini sekitar Rp 5.000 per kg. Dengan harga di London setinggi itu, ada insentif besar untuk menyelundupkan gula ke dalam negeri.

Harga gandum turun 7,03 persen (5,95 dollar AS per gantang). Harga gandum meski mengalami penurunan tidak langsung akan menurunkan harga terigu dan juga produk turunannya secara langsung di dalam negeri. Kalangan produsen biasanya menunggu hingga harga stabil, baru mereka menyesuaikan harga penjualan.

Harga kedelai untuk pengiriman November turun 7,06 persen (9,22 dollar AS per gantang). Harga kedelai yang turun akan menurunkan harga kedelai di dalam negeri. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan kedelai di dalam negeri diimpor. Meski demikian, penurunan harga produk asal kedelai seperti tahu dan tempe tidak akan cepat terjadi.

Kenaikan produksi kedelai juga diperkirakan terjadi pada tahun ini sehingga akan menekan harga kedelai di tengah tekanan akibat penurunan permintaan karena krisis finansial itu. Perkiraan produksi kedelai terbaru di AS naik dari 2,93 miliar gantang ke 2,98 miliar gantang.

Untuk harga CPO yang telah menurun sejak beberapa bulan lalu diperkirakan juga kembali turun karena untuk saat ini harga CPO juga sangat terkait dengan harga minyak. Ketika harga minyak dunia turun, harga CPO juga akan turun. Pada Maret lalu harga CPO di bursa Kuala Lumpur, Malaysia, mencapai 3.695 RM (ringgit Malaysia) per ton, tetapi menjadi 2.347 RM per ton pada akhir September lalu.

Sindikat internasional

Jadi, sebelum krisis finansial harga CPO telah menurun. Informasi dari kalangan produsen CPO menyebutkan adanya sindikat internasional yang diduga mendorong kenaikan harga CPO hingga menarik para investor untuk masuk ke bisnis ini sejak beberapa waktu lalu. Harga yang menjulang menjadikan pemilik modal yang tidak tahu-menahu dengan kelapa sawit berlarian menanamkan modal ke perkebunan sawit.

Ketika mereka beramai-ramai masuk, perangkap sindikat ini dimainkan. Harga CPO mulai diturunkan sehingga investor yang sudah terlibat dengan utang perbankan bersiap-siap keluar dari bisnis kelapa sawit. Sindikasi inilah yang nantinya ”mengurus” utang dan juga aset-aset milik investor dadakan itu. Pada saatnya nanti, sindikasi ini menguasai bisnis kelapa sawit secara besar-besaran.

Mempercepat kejatuhan

Krisis finansial yang disertai dengan penurunan permintaan CPO dipastikan makin mempercepat jatuhnya aset perkebunan kelapa sawit ke tangan sindikasi ini karena harga jual CPO makin tak menarik lagi. Harga sawit yang makin murah menjadikan investor dadakan tak lagi berniat meneruskan bisnis.

Sindikasi itu yang berpikir jangka panjang dengan senang hati menolong para investor ini, dengan mengucurkan dana. Namun, kelak mereka menjadi raja bisnis kelapa sawit karena telah menguasai aset perkebunan di berbagai tempat. Meski demikian, keberadaan sindikasi ini sulit dideteksi. Dugaan itu hingga sekarang juga sulit dibuktikan dan tetap menjadi rumor.

Indonesia perlu mencermati secara khusus perkembangan harga komoditas di pasar dunia karena sejumlah komoditas itu terkait langsung dengan industri dan juga nasib petani di Indonesia. Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, Indonesia relatif ”tenang-tenang saja” menangani masalah ini.

Negara tetangga Malaysia sudah sejak awal memantau perkembangan ini dan berusaha mencari cara untuk menekan dampak penurunan itu. Malaysia meyakini dampak penurunan harga yang paling membahayakan adalah kerugian besar yang harus ditanggung petani. Mereka telah memperkirakan dampak sosial ekonomi penurunan harga komoditas akan menyulitkan mereka.

Tidak ada komentar: