Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Memuat...

Selasa, 04 November 2008

TBS Anjlok, Tanam Jagung

Sabtu, 01 November 2008
Manfaatkan Lahan Tidur di Pessel
Painan, Padek—Lahan tidur dan pengangguran tidak semestinya ada di Pesisir Selatan (Pessel). Ketua DPRD Pessel Alirman Sori mengatakan, banyak hal yang bisa dilakukan agar lahan tersebut bisa digarap dan produktif.

“Sebetulnya istilah lahan tidur itu tidak ada di kabupaten ini, hanya saja ada orangnya yang tidur. Jika orangnya giat, maka angka pengangguran dan lahan tidur itu tidak akan ada. Semua lahan itu berpotensi untuk menghidupkan perekonomian masyarakat,” tegas Ketua DPRD Pessel, Alirman Sori.

Hal itu disampaikannya pada Pioner Expo dan Panen Perdana Demplot jagung Hibrida Pioneer PT DuPont dan temu wicara dengan petani jagung di Kampung Embacanglimus, Kenagarian Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, kemarin.

“Banyak yang bisa ditanam masyarakat pada lahan-lahan atau areal pertanian itu untuk lahan itu tidak terlantar. Jangan hanya mengandalkan satu jenis tanaman saja yang ditanam dilahan yang luas itu. Masih banyak tanaman alternatif lainnya yang bisa dikembangkan sebagai pertanian seperti tanaman jagung,” jelasnya.

Tanaman jagung, katanya, sangat potensial dikembang di Pessel. Dari Demplot jagung Hibrida Pioneer PT DuPont yang dilakukan saat itu saja, dalam satu hektar lahan bisa menghasilkan 12,3 ton pipilan jagung.

Pada saat anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit saat ini, akan menjadi hal penting bagi masyarakat untuk menghidupkan perekonomiannya. Masyarakat tidak akan keputusan mata pencaharian dengan menggunakan lahan yang ada untuk areal pertanian. Harga jagung kering saat ini Rp2.500. Dengan menanam 1 hektar lahan dengan jagung, petani akan bisa berpenghasilan minimal Rp6 juta sekali panen setelah dikeluarkan modal.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Pesisir Selatan, Afrizon Nazar di kesempatan yang sama mengatakan, kabupaten ini memiliki lahan terlantar yang cukup luas, baik lahan kering maupun basah (sawah). Khusus lahan kering didapat areal terlantar seluas 20.844 hektar. Lahan seperti itu hampir terlihat hampir di seluruh kecamatan yang ada.
Terjadinya lahan terlantar tersebut disebabkan tidak tersedianya drainase, belum memadainya irigasi, kurangnya modal kerja sehingga tidak adanya kepatian usaha yang berakibat kurangnya gairah petani mengusahakan lahan tersebut. Upaya untuk mengoptimalkan lahan tersebut memerlukan teknologi yang terpadu dan tidak kalah pentingnya diperlukan dana yang besar untuk lahan itu tersebut dapat optimal. (yunisman)


Tidak ada komentar: