Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Memuat...

Senin, 10 November 2008

Negeriku Sedang Dilanda Bahaya Rawan Pangan


(Kebun kelapa sawit di antara tanaman padi)

Irsyadul Halim

(Eksekutif Direktur Kaliptra Sumatera)

Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Riau menyatakan, produk si padi tahun 2008 berdasarkan angka ramalan III, diperkirakan sebesar 476.994 ton gabah kering giling (GKG). Ini berarti terjadi penurunan sebesar 2,67 persen, dibandingkan produksi padi tahun 2007.

Kepala BPS Riau, Irland Indrocahyo, Minggu (9/11) mengatakan, penurunan produksi disebabkan berkurangnya luas area tanam padi di Riau. Luas panen padi tercatat sebesar 143 ribu hektar, atau turun 2,83 persen di bandingkan tahun 2007.

Akibatnya, realisasi panen pada Januari-April 2008 turun 7,08 persen. Dan pada Mei-Agustus juga turun sebesar 4,09 persen, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. “ Areal sawah kini berkurang. Kemungkinan karena banyak petani beralih menanam kelapa sawit,” kata Irland.

Meski luas produksi turun, namun menurut irland, tingkat produktivitas padi tahun 2008 tercatat sebesar 33,36 kuintal perhektar, atau naik 0,18 persen.

Penurunan ini akan terjadi setiap tahunnya jika tidak ada antisipasi pemerintah terhadap kerawanan pangan ini. Perkembangan perkebunan kelapa sawit memang beberapa bulan belakangan mengalami penurunan karena harga tandan buah segar mengalami penurunan signifikan sehingga petani merugi. Namun tidak tertutup kemungkinan perkembangan perkebunan kelapa sawit ini akan semakin meningkat apabila harga buah kembali stabil.

Perkebunan kelapa sawit di propinsi Riau saat ini terhitung sudah 2,1 juta ha yang tersebar di seluruh kabupaten. Jumlah ini terbesar dari seluruh nusantara, maka wajar pemerintah Indonesia akhirnya mengimpor beras dari negara tetangga, Vietnam, Thailand dan Lainnya. Jika ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin harga beras yang saat ini sekitar Rp. 7000 perkilogramnya akan menjadi lebih mahal karena saat ini negara penghasil beras juga sedang mengembangkan tanaman sawit. Sehingga akhirnya tidak mampu lagi mengekspor karena kebutuhan didalam negeri mereka sendiri produksi beras berkurang. Bayangkan nantinya Negara Indonesia yang 70% rakyatnya adalah petani akhirnya akan membeli beras dengan harga yang mahal. Sungguh akan menjadi ironi hidup di tanah yang subur, gemah ripah loh jinawi ini.

Tidak ada komentar: