Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Memuat...

Senin, 03 November 2008

Pengusaha Sawit Ramai-ramai Lari ke Pekanbaru

Senin, 03 November 2008 | 08:38 WIB
Nekat Jadi Kuli Bangunan untuk Bayar Utang
PEKANBARU--Merosotnya harga sawit cukup membuat terpukul para pengusaha dan petani sawit. Mereka pun mencoba mengadu nasib di Kota Bertuah Pekanbaru untuk menghidupi keluarga dan membayar utang. Meski harus menjadi kuli bangunan.

Sambil duduk bersila di kursi kayu, Jakiman (43) terus bercerita tentang nasib keluarganya. Sesekali, Jakiman menarik nafas panjang dengan asap rokok yang mengepul dari mulut dan hidungnya. Matanya menerawang jauh ke atas.

‘’Ya, mau bagaimana lagi. Harga sawit perkilogramnya hanya Rp150. Sebelumnya mencapai Rp1.500. Tak bisa lagi saya bertahan di kampung. Anak empat orang sekolah semua. Belum lagi hutang sana hutang sini yang harus dibayar. Akhirnya saya memilih lari ke Pekanbaru meski hanya menjadi kuli bangunan. Lumayan, per hari gaji saya Rp40.000,’’ beber Jakiman kepada RPG, Ahad (2/11) saat berkunjung ke bedeng tempat kerjanya di Jalan Riau.

Mata pria paruh baya ini berkca-kaca. Rambutnya yang ikal, berantakan, seolah tak pernah disisir. Kuku kaki dan tangannya hitam semua. begitu juga dengan kulitnya yang hitam memerah karena terik matahari yang harus dilawannya selama 10 jam setiap hari. Apalagi Jakiman juga terpaksa harus lembur hingga pukul 22.00 WIB karena proyek yang dikerjakannya harus segera selesai.

Tidak ada yang menduga kalau Jakiman dulunya adalah seorang toke sawit di Desa Sadar Jaya, Kecamatan Siak Kecik, Kabupaten Bengkalis. Apalagi saat melihat keadaannya saat ini. Dengan baju seadanya, makan seadanya, Jakiman harus tidur di bedeng kayu yang hanya berukuran 5x5 meter. Sementara di lahan persis sebelah bedeng itu, bakal tumbuh bangunan rumah mewah berlantai dua.

Di bedeng inilah, Jakiman harus pandai-pandai mencari tempat tidur karena harus berdesakan dengan 13 temannya yang lain. Makan dengan lauk apa adanya, tidur dengan irama suara nyamuk malam, hal baru yang harus dijalani Jakiman.

Belum lagi perlengkapan masak dan pribadi yang juga menumpuk di bedeng itu. Mulai dari baju kotor, baju bersih, tas-tas, sendal, handuk dan sebagainya, semua ada di ruang sempit itu. Sedangkan bagian belakang bedeng ada ruang kecil yang digunakan untuk tempat memasak.

Pemilik kebun sawit 12 hektare ini tidak datang sendiri ke Pekanbaru, melainkan dengan empat rekannya yang lain, yang juga memiliki kebun sawit di kampungnya. Untuk menutupi utang dan keperluan keluarganya, Jakiman menjual sebagian kebun sawitnya itu dengan harga yang murah.

‘’Modal untuk mendapatkan tandan sawit segar tidak sepadan lagi dengan hasil yang kita peroleh. Untuk upah, angkut, upah dodos (memetik sawit, red), pupuk dan sebagainya. Pokoknya tidak bisalah. Apalagi utang kita banyak karena kita tidak menyangkaharga sawit akan turun separah ini,’’ papar Jakiman lagi.

Tidak pernah dibayangkan Jakiman sebelumnya, kalau akan mengalami nasib seperti ini. Apalagi hidup merantau di Pekanbaru sebagai kuli bangunan. Tiga minggu yang baru dilaluinya, terasa tidak menyenangkan. Keluarga, kampung halaman, dan masa depan kebun sawitnya terus menghatui pikiran.

‘’Kalau tidak sabar, saya sudah stres. Mungkin sudah gila. Untung isteri saya selalu mengingatkan. Ya, harus lebih sabarlah,’’ kata Jakiman sambil menarik nafas panjang.

Hari Ahad merupakan hari istirahat bagi Jakiman dan teman-temannya. Begitu juga dengan Ucon (38) yang berasal dari Medan. Ucok yang juga pengusaha sawit ini datang ke Pekanbaru seminggu lebih awal dibandingkan Jakiman. Mengadu nasib di kota seperti Pekabaru, sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya.

‘’Kalau tidak ada yang membawa dan tidak ada lowongan kerja yang pasti, kita juga tidak berani datang ke Pekanbaru. Lagipula tidak ada saudara di sini. Salah-salah bisa jadi gelandangan,’’ kata Ucok pula.(kun/yls)

Tidak ada komentar: