Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Memuat...

Kamis, 04 September 2008

Harga TBS Capai Rp800 per Kilogram

Selasa, 02 September 2008
Laporan Wiwik Werdaningsih, Perawang wiwik-werdaningsih@riaupos.co.idAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
PETANI sawit kini tidak hanya mengeluhkan mahalnya harga pupuk yang semakin melambung, namun juga harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani yang anjlok, hingga mencapai Rp800 per Kilogram. Hal ini menyebakan petani sawit sangat kesulitan.

Anjloknya harga TBS sudah dirasakan petani sawit beberapa bulan belakangan. Harga TBS anjlok pada tingkat terendah, sehingga tidak sebanding dengan biaya produksi per hektare. ‘’Sudah berapa-bulan belakangan ini, harga jual sawit semakin menurun hingga mencapai Rp800 per Kilogram. Harga tersebut belum termasuk pemotongan dan ongkos panen, jatuhnya ke petani hanya Rp700. Sementara harga pupuk semakin tinggi. Hal ini sangat menyulitkan kami yang memiliki modal yang pas-pasan,’’ ujar Tarno petani sawit di Perawang Barat, Kecamatan Tualang kepada wartawan.

Menurut Tarno, dengan anjloknya harga TBS, tentu sangat memberatkan bagi petani. Untuk saat ini saja harga pupuk ditingkat petani seperti NPK mencapai antara Rp500-600 Ribu per sak (50 Kg). Sementara di sisi lain harga sawit kian terpuruk bahkan mencapai tingkat terendah hanya Rp800 per Kilogram.

Dikatakan Tarno, harga sawit mencapai Rp800, melorot jauh dari harga sebelumnya. Harga tertinggi ditingkat petani saat itu sudah mencapai Rp1.850 per Kilogram. Sehingga pada saat harga pupuk naik pada waktu itu, petani sawit tidak merasakan dampaknya terlalu besar. Mereka masih bisa membeli pupuk. Namun dengan harga sawit sekarang ini, tentu sulit bagi petani membeli pupuk guna meningkatkan hasil produksi.

‘’Dengan kondisi sekarang ini, kami sangat mengharapkan pemerintah mencarikan solusi. Harga sawit sekarang anjlok, tentu sangat sulit bagi kami memberi pupuk,’’ harapnya.

Keluhan naiknya harga pupuk tidak hanya dirasakan petani di Perawang, ternyata petani plasma di Lubukdalam yang menjadi anggota Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUB) Mitra Tani juga mengeluhkan hal yang sama.

Menurut Ketua KJUB Mitra Tani, Triyana, harga pupuk yang mahal tidak menjamin stok tersedia ada. Sementara harga pupuk naik terus, mestipun pupuk mahal tapi susah dicari. Namun untuk menyiasati kondisi ini, petani terpaksa menggunakan pupuk kimia dengan pupuk organik sebagai alternatif.

‘’Untuk mengatasi masalah pupuk, kita menggunakan pupuk organik, meski dengan konsekwensi produksi menurun dan proses berlangsung lama, dengan proses produksi yang lama menjadi 6 bulan,’’ jelasnya.(wik)

Tidak ada komentar: