Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Memuat...

Senin, 16 Februari 2009

Dua Sektor Masih

Pasar Modal
Senin, 16 Februari 2009 | 00:39 WIB 

Jakarta, Kompas - Kenaikan harga saham-saham sektor perkebunan dan pertambangan pada pekan lalu diperkirakan masih akan terus berlanjut pada pekan ini.

Selain dipengaruhi harga komoditas yang cenderung meningkat, pilihan investor terhadap saham pertambangan dan perkebunan juga dipicu oleh kekhawatiran mengakumulasi saham-saham sektor lainnya, khususnya saham perbankan.

”Saham perkebunan dan pertambangan masih akan mendominasi perdagangan saham sepekan ke depan. Apalagi jika harga minyak dan CPO meningkat,” kata Direktur Kapita Sekurindo Haryajid Ramelan, Minggu (15/2) di Jakarta.

Jika penguatan terhadap saham-saham pertambangan dan perkebunan cukup signifikan, Haryajid memperkirakan, saham-saham di kedua sektor itu berpotensi menjadi penggerak indeks. Saham-saham di kedua sektor itu memiliki kapitalisasi pasar relatif besar.

Bila digabung, kapitalisasi pasar saham-saham di sektor pertambangan dan perkebunan mencapai Rp 174 triliun. Jumlah tersebut merupakan 16,2 persen dari total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia, yang mencapai Rp 1.074 triliun.

Akhir pekan lalu, harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) meningkat 2,57 persen, sedangkan harga minyak mentah jenis light sweet di York Mercantile Exchange untuk pengiriman bulan Maret 2009 meningkat tajam sebesar 3,53 dollar AS, menjadi 37,51 dollar AS.

Meningkatnya harga minyak yang relatif tinggi itu di luar perkiraan para pemangku kepentingan minyak. Sebelumnya, para pedagang akan menandatangani kontrak penjualan untuk bulan Maret, dan kemudian kembali membeli pada bulan April sampai Juli 2009.

”Hari Jumat rencana itu berubah,” kata Phil Flynn dari Alaron Trading Corporation.

Haryajid memperkirakan, saham-saham sektor perkebunan dan pertambangan masih akan dilirik para investor.

Hal itu, kata Haryajid, karena para investor belum memiliki acuan atau data untuk mulai membeli saham-saham sektor lainnya.

Masih khawatir

Dalam sepekan ini, para investor diperkirakan masih akan menahan diri untuk membeli saham-saham perbankan.

Sampai saat ini, kata Haryajid, investor masih khawatir terhadap kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit.

Hal itu dilandasi penilaian terhadap sikap perbankan yang belum juga menurunkan suku bunga kredit, sekalipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan dari 8,75 persen menjadi 8,25 persen pada awal Februari.

Selain itu, para investor juga khawatir terhadap kemungkinan meningkatnya rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) perbankan, menyusul turunnya daya beli masyarakat.

Perbankan syariah

Namun, terhadap saham perbankan yang memiliki basis cukup kuat di sektor pembiayaan syariah dan kredit mikro, sikap investor berbeda. Masih ada peluang investor saham-saham perbankan tersebut dibeli investor.

Haryajid menilai, perbankan yang memiliki lini bisnis yang kuat di pembiayaan syariah dan kredit mikro lebih siap menghadapi kondisi perekonomian yang bergolak seperti saat ini.

Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero memperkirakan, perdagangan saham selama sepekan ini belum akan marak.

Menurut dia, investor masih cenderung menunggu keluarnya laporan keuangan emiten. Laporan itu akan menjadi landasan bagi investor untuk berinvestasi di pasar saham.

Investor, lanjut Poltak, ingin mengetahui berapa tingkat eksposur masing-masing emiten terhadap kerugian selisih kurs menyusul turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Baik Poltak maupun Haryajid memperkirakan, pergerakan indeks saham bursa dalam negeri selama sepekan ini masih akan dipengaruhi kondisi bursa regional dan global. (AP/REI)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/16/00392893/dua.sektor.masih

Tidak ada komentar: