Welcome To Riau Info Sawit

Kepada pengunjung Blog ini jika ingin bergabung menjadi penulis, silahkan kirim alamat email serta pekerjaan anda ke : anaknegeri.andalas@gmail.com

Tampilkan postingan dengan label Berita Riau Today. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Riau Today. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2008

Awal 2009, Harga TBS Normal

Kamis, 11 Desember 2008 | 08:08 WIB 
PEKANBARU--Dinas Perkebunan (Disbun) Riau memprediksi awal tahun 2009 mendatang, harga jual Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit akan kembali normal. Hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga jual TBS sudah terlaksana. Saat ini harga jual TBS di kisaran Rp1.057.
 
Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Riau Susilo SE yang ditemui di Kantor Gubernur Riau, Rabu (10/12) mengatakan, jika pekan lalu harga sawit mencapai Rp975,99 per kilogram, maka berdasarkan hasil rapat Tim Penetapan Harga Pembelian TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau, Rabu (10/12), harga sawit mencapai Rp1.057 per kilogram.

“Kita optimis harga sawit awal tahun depan akan kembali normal. Jika kita lihat perkembangan harga sawit saat ini, sudah mulai mengalami peningkatan. Dan kita tetap berupaya untuk meningkatnya,” tuturnya.

Dikatakannya, hasil keputusan rapat Tim Penetapan Harga Pembelian TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau pada Rabu (10/12) melalui pembahasan dan diskusi yang dilakukan oleh anggota tim terhadap informasi dan data yang disampaikan oleh empat perusahaan sumber data 10 perusahaan yang ditetapkan, telah dinyatakan layak untuk diolah yakni, harga CPO rerata tertimbang priode penjualan 1-7 Desember 2008 Rp5.213,00. 

Harga kernel rerata tertimbang priode penjualan 1-7 Desember 2008 Rp2.216,49, indek “K” (persen) 84,37 persen dengan menggunakan rumus HTBS = K{(HCPOxRCPO)+(hisxRis)}. 

Berdasarkan keputusan tersebut, dapat dirinci harga sawit priode Senin hingga Minggu tanggal 8 sampai 14 Desember 2008 sebagai berikut untuk harga sawit umur 3 tahun Rp756,24 per kilogram. Sawit umur 4 tahun Rp845,47 per kilogram, umur 5 tahun Rp905,13 per kilogram, umur 6 tahun Rp930,86 per kilogram, umur 7 tahun Rp966,65 per kilogram, umur 8 tahun, Rp996,73 per kilogram, umur 9 tahun Rp1.028,18 per kilogram dan umur 10 tahun ke atas Rp1.075,32 per kilogram. ‘’Kita berharap harga TBS ini terus mengalami kenaikan sehingga petani tidak disulitkan karena penurunan harga TBS ini dan kita optimistis awal tahun mendatang harga TBS akan kembali normal,’’ tuturnya.(uli)
http://www.riautoday.com/

Senin, 03 November 2008

Pengusaha Sawit Ramai-ramai Lari ke Pekanbaru

Senin, 03 November 2008 | 08:38 WIB
Nekat Jadi Kuli Bangunan untuk Bayar Utang
PEKANBARU--Merosotnya harga sawit cukup membuat terpukul para pengusaha dan petani sawit. Mereka pun mencoba mengadu nasib di Kota Bertuah Pekanbaru untuk menghidupi keluarga dan membayar utang. Meski harus menjadi kuli bangunan.

Sambil duduk bersila di kursi kayu, Jakiman (43) terus bercerita tentang nasib keluarganya. Sesekali, Jakiman menarik nafas panjang dengan asap rokok yang mengepul dari mulut dan hidungnya. Matanya menerawang jauh ke atas.

‘’Ya, mau bagaimana lagi. Harga sawit perkilogramnya hanya Rp150. Sebelumnya mencapai Rp1.500. Tak bisa lagi saya bertahan di kampung. Anak empat orang sekolah semua. Belum lagi hutang sana hutang sini yang harus dibayar. Akhirnya saya memilih lari ke Pekanbaru meski hanya menjadi kuli bangunan. Lumayan, per hari gaji saya Rp40.000,’’ beber Jakiman kepada RPG, Ahad (2/11) saat berkunjung ke bedeng tempat kerjanya di Jalan Riau.

Mata pria paruh baya ini berkca-kaca. Rambutnya yang ikal, berantakan, seolah tak pernah disisir. Kuku kaki dan tangannya hitam semua. begitu juga dengan kulitnya yang hitam memerah karena terik matahari yang harus dilawannya selama 10 jam setiap hari. Apalagi Jakiman juga terpaksa harus lembur hingga pukul 22.00 WIB karena proyek yang dikerjakannya harus segera selesai.

Tidak ada yang menduga kalau Jakiman dulunya adalah seorang toke sawit di Desa Sadar Jaya, Kecamatan Siak Kecik, Kabupaten Bengkalis. Apalagi saat melihat keadaannya saat ini. Dengan baju seadanya, makan seadanya, Jakiman harus tidur di bedeng kayu yang hanya berukuran 5x5 meter. Sementara di lahan persis sebelah bedeng itu, bakal tumbuh bangunan rumah mewah berlantai dua.

Di bedeng inilah, Jakiman harus pandai-pandai mencari tempat tidur karena harus berdesakan dengan 13 temannya yang lain. Makan dengan lauk apa adanya, tidur dengan irama suara nyamuk malam, hal baru yang harus dijalani Jakiman.

Belum lagi perlengkapan masak dan pribadi yang juga menumpuk di bedeng itu. Mulai dari baju kotor, baju bersih, tas-tas, sendal, handuk dan sebagainya, semua ada di ruang sempit itu. Sedangkan bagian belakang bedeng ada ruang kecil yang digunakan untuk tempat memasak.

Pemilik kebun sawit 12 hektare ini tidak datang sendiri ke Pekanbaru, melainkan dengan empat rekannya yang lain, yang juga memiliki kebun sawit di kampungnya. Untuk menutupi utang dan keperluan keluarganya, Jakiman menjual sebagian kebun sawitnya itu dengan harga yang murah.

‘’Modal untuk mendapatkan tandan sawit segar tidak sepadan lagi dengan hasil yang kita peroleh. Untuk upah, angkut, upah dodos (memetik sawit, red), pupuk dan sebagainya. Pokoknya tidak bisalah. Apalagi utang kita banyak karena kita tidak menyangkaharga sawit akan turun separah ini,’’ papar Jakiman lagi.

Tidak pernah dibayangkan Jakiman sebelumnya, kalau akan mengalami nasib seperti ini. Apalagi hidup merantau di Pekanbaru sebagai kuli bangunan. Tiga minggu yang baru dilaluinya, terasa tidak menyenangkan. Keluarga, kampung halaman, dan masa depan kebun sawitnya terus menghatui pikiran.

‘’Kalau tidak sabar, saya sudah stres. Mungkin sudah gila. Untung isteri saya selalu mengingatkan. Ya, harus lebih sabarlah,’’ kata Jakiman sambil menarik nafas panjang.

Hari Ahad merupakan hari istirahat bagi Jakiman dan teman-temannya. Begitu juga dengan Ucon (38) yang berasal dari Medan. Ucok yang juga pengusaha sawit ini datang ke Pekanbaru seminggu lebih awal dibandingkan Jakiman. Mengadu nasib di kota seperti Pekabaru, sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya.

‘’Kalau tidak ada yang membawa dan tidak ada lowongan kerja yang pasti, kita juga tidak berani datang ke Pekanbaru. Lagipula tidak ada saudara di sini. Salah-salah bisa jadi gelandangan,’’ kata Ucok pula.(kun/yls)

Harga TBS Terendah Rp548,74 per Kg

Harga TBS Terendah Rp548,74 per Kg
Kamis, 30 Oktober 2008 | 11:53 WIB
Laporan Idris Ahmad - redaksi@riautoday.comAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
PEKANBARU - Harga pembelian buah sawit (TBS) kelapa sawit terendah di Riau hingga 2 November mendatang Rp348,74 per Kg.

Demikian data resmi yang dikeluarkan Kasubdin Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Riau Ir Ferry HC Ernaputa MSi.

Harga TBS Rp548,74 per Kg tersebut khusus untuk umur tanaman tiga tahun, sementara untuk umur tanaman empat tahun harga per Kg Rp613,10, umur lima tahun Rp656,20, umur enam tahun Rp675,21, umur tujuh tahun Rp701,07, umur delapan tahun Rp722,90, umur sembilan tahun Rp745,93 dan umur sepuluh tahun ke atas Rp766,88 per Kg.***
Riau harus Punya Industri Hilir CPO
Selasa, 28 Oktober 2008 | 09:35 WIB
PEKANBARU--Puluhan pengusaha perkebunan kelapa sawit di Riau melakukan pertemuan dengan Gubernur Riau (Gubri) Drs H Wan Abubakar MS MSi di Balai Pauh Janggi Gedung Daerah Riau, Pekanbaru, Senin (27/10) malam. Dalam pertemuan itu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dan para pengusaha sepakat akan melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden (Wapres) HM Jusuf Kalla. Waktu pertemuan itu akan dilakukan akan dikoordinasi dengan pihak Wapres dan diharapkan terlaksana dalam dua pekan mendatang.
Gubri yang ditemui usai pertemuan mengatakan, pertemuan dengan Wapres tersebut guna meminta dukungan agar di Riau didirikan industri hilir dari Crude Palm Oil (CPO), dukungan ini sangat diperlukan sekali, sebab tanpa dukungan ini sangat tidak mungkin industri hilir tersebut bisa dilakukan.

‘’Kita sepakat untuk melakukan pertemuan dengan Wapres Bapak HM Jusuf Kalla hanya saja kapan, akan kita koordinasikan pihak Wapres, namun kita berharap pertemuan itu bisa dilakukan dalam dua pekan ke depan. Kita akan meminta dukungan agar di Riau didirikan industri hilir CPO,’’ ujarnya.

Selain itu, tambah Gubri, dalam pertemuan itu juga disepakati untuk membentuk tim guna mengatasi persoalan turunnya harga jual Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Yang perlu diingat, turunnya harga jual TBS ini bukan karena kebijakan Pemerintah Indonesia, akan tetapi karena krisis global yang melanda dunia, imbasnya berdampak pada petani di Riau.

Diharapkan dengan adanya industri hilir CPO tersebut, ekspor CPO ke luar negeri bisa dibatasi, sebaliknya CPO tersebut akan bisa diolah di dalam negeri dalam berbagai bentuk seperti minyak goreng, sabun, kosmetik dan sebagainya. Langkah semacam ini perlu sekali dilakukan, sehingga krisis yang berkepanjangan ini bisa segera diatasi dan petani tidak mengalami kerugian terus-menerus.

Sedangkan tim yang akan dibentuk ini, lanjut Gubri, diharapkan bisa bekerja secepatnya. Tim ini terdiri atas dari pengusaha kelapa sawit khususnya yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asisten II, Dinas Perdagangan, Biro Ekonomi Pembangunan (Ekbang) dan sebagainya.

Upaya mengatasi rendahnya harga jual TBS ini harus dilakukan secepatnya, sebab jika tidak dilakukan akan bisa menimbulkan ledakan kemiskinan di Riau. Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau Herliyan Saleh mengatakan, jika persoalan ini tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan ledakan kemiskinan di Riau akan meningkat dari 11 persen saat ini akan menjadi 34 persen. Mengapa ini bisa terjadi karena hampir 23 persen penduduk Riau bergerak dalam sektor ini. ‘’Kalau hal ini tidak ditangani dengan segera ledakan itu besar kemungkinan akan terjadi, kita berharap upaya mengatasinya bisa segera dilakukan sehingga ledakan kemiskinan tersebut tidak terjadi,’’ ujarnya.

Namun Gubernur Wan Abubakar tetap mengharapkan hal ini tidak terjadi. Meskipun saat ini harga jual TBS sangat rendah, masyarakat diingatkan jangan sampai menjual lahan kebun kelapa sawitnya. ‘’Masyarakat jangan sampai menjual lahan kebun sawitnya, kita harapkan persoalan ini akan segera teratasi dan harga TBS kembali normal,’’ ujar Gubri.(gem)

Petani Sawit Kredit di Bank Riau Rp 335 M

Selasa, 28 Oktober 2008 | 08:53 WIB
PEKANBARU--BANK Riau melansir data, saat ini petani sawit di Provinsi Riau yang telah menggunakan kredit di bank kebanggaan masyarakat Riau itu, sebesar Rp335 miliar. Dari angka tersebut Rp332 miliar disalurkan untuk kredit investasi, dan sisanya Rp3 miliar untuk kredit modal kerja.
Total penyaluran kredit yang disalurkan Bank Riau sebesar Rp4,8 triliun. Dimana Rp667 miliar dananya disalurkan untuk kredit usaha mikro. Termasuk didalamnya kredit untuk para petani sawit yang ada di Provinsi Riau.

Hal ini diungkapkan Direktur Komersil dan Syariah Bank Riau Drs H Abdul Aziz MBA saat rapat kerja dengan Komisi B DPRD Riau, Senin (27/10).

Rapat yang membahas tentang polemik penurunan harga jual Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau itu, juga dihadiri Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Susilo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tiolinan Pangaribuan, dan Kepala Biro Ekonomi Pembangunan Setdaprov Riau Iqaruddin. Rapat ini dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi B AB Purba dan diikuti Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) Riau.

‘’Sejauh ini, meskipun penurunan harga jual TBS sedang terjadi, di Bank Riau belum mencatat adanya keterlambatan para debitur melaksanakan kewajibannya untuk membayar angsuran kredit. Belum ada pengaruh setakat ini,’’ kata Abdul Aziz.
Bank Riau sendiri mencatat, dari Rp335 miliar kredit yang disalurkan, jumlah nasabahnya mencapai 11.304 orang yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Bank Riau sendiri kata Abdul Aziz telah memiliki beberapa solusi untuk mengatasi jika para kriditor, terutama para kreditor yang berasal dari kalangan petani sawit swadaya.

‘’Solusi yang kita tawarkan seperti melakukan penjadwalan utang, menurunkan suku bunga pinjaman, penambahan investasi dalam bentuk kredit, dan lain sebagainya,’’ katanya.(uli)

Buat Pergub Standarisasi Harga

Senin, 27 Oktober 2008 | 17:57 WIB
Atasi Merosotnya Harga Sawit
PEKANBARU--Rapat kerja lintas instansi yang di fasilitasi Komisi B DPRD Riau untuk membahas penanggulangan merosotnya harga tandan buah segar (TBS) di Riau, memutuskan satu suara untuk mendesak Pemrov membuat peraturan gubernur yang mengatur harga TBS di pasaran.

Berlangsung di ruang medium DPRD Riau kemarin, Wakil Ketua Komisi B, AB Purba memimpin rapat kerja yang dihadiri beberapa instansi dan perwakilan masyarakat. Seperti Dinas Perkebunan Riau yang dipimpin Kadis Sudirno, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Riau, hadir Kadis Tiolina Pangaribuan, utusan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Riau (Gapki) diantaranya Ketua Gapki Wisnu dan perwakilan Bank Riau.

Dalam dialog yang berlangsung cukup alot karena masing- masing pihak memberikan penjelasan terkait fenomena turunnya harga TBS, sebagai implikasi krisis global. Sementara dari Komisi B mempertanyakan seperti apa solusi untuk mengantisipasi dampak yang semakin luas terutama yang terjadi pada petani sawit swadaya.

''Paling terpukul itu adalah petani sawit swadaya, karena tidak bermitra dengan pihak pabrik kelapa sawit (PKS). Akibatnya harga beli TBS ditentukan PKS. Dengan alasan harga CPO turun, PKS menggunakannya sebagai senjata untuk membeli sawit petani serendah-rendahnya bahkan hanya Rp200/kg,''argumen Rusdaryanto, anggota Komisi B.

Dilanjutkan AB Purba, di Riau jumlah petani swadaya cukup besar. Akan menjadi masalah besar jika kondisi ini tidak bisa dicari jalan keluarnya. Semntara itu Sekretaris Gapki, Zulbahri mengatakan dampak turunya harga TBS bukan hanya terjadi di kalangan petani swadaya, tapi juga ditingkat perkebunan yang lebih luas. ''Kami juga merasakannya, ini yang harus dicari jalan keluarnya,''sebut Zulbahri.

Rapat kerja yang berlangsung hingga tiga jam ini, akhirnya berkesudahan dengan kesimpulan meminta kepada Pemrov untuk membuat Pergub yang mengatur standarisasi harga TBS di pasaran. Hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi petani sawit. Untuk menggagasnya perlu dibentuk tim yang terdiri dari lintaskerja. (ron)

Sabtu, 25 Oktober 2008

Harga Sawit Anjlok, Para Petani Jual Kebun

Sabtu, 25 Oktober 2008 | 08:45 WIB
PANGKALAN KERINCI--Efek domino krisis ekonomi global terus merambah ke bawah, diantaranya tekanan pada sektor usaha perkebunan kelapa sawit dan karet di tingkat produsen hulu, menyusul anjloknya harga. Di kalangan masyarakat, khususnya kalangan petani dan pekebun, dampak terbesar dipicu oleh penurunan jumlah uang beredar dan turunnya daya beli. Mau tidak mau, untuk tetap bertahan warga terpaksa menjual kebun dan barag berharga lain.

Kepala Desa Bagan Laguh, Kecamatan Bunut Syafli mengungkapkan, untuk memenuhi tuntutan hidup warga desa beramai ramai menjual lahan mereka. Ada yang menjual tanah kosong, dan tidak sedikit juga menjual kebun sawit dan karet produktif.

‘’Setahu saya sudah ada tujuh orang warga Bagan Laguh menjual kebun sawit. Yang ingin menjual tapi belum laku lebih banyak lagi, mungkin puluhan,’’ ungkapnya kepada Riau Pos, Jumat (24/10).

Yang mengerikan, kata dia, pada saat ini nilai jual kebun sawit di Bagan Laguh juga turun. Jika sebelumnya harga satu kavling mencapai Rp100 juta sampai Rp150 juta, banyak petani yang menawarkan harga dibawah Rp60 juta. Bagitu juga pasaran tanah kosong ikut turun. Untuk lahan yang biasanya laku Rp15 juta satu hektare, beberapa hari terakhir hanya ditawarkan Rp7 juta. Bahkan menurutya, tidak tertutup kemungkinan pasaran tanah di desa itu turun lagi. Terutama akibat tekanan yang dirasakan warga nasabah bank maupun leasing kendaraan. Selain itu, yang juga mendesak adalah biaya pendidikan di berbagai perguruan tinggi.

‘’Pada saat harga sawit kembali normal seperti dulu, harga kebun Rp100 juta ke atas. Saya khawatir masyarakat menyesal di belakang hari,’’ ujarya lagi. Untuk itu pihaknya berharap pemerintah membuat program-program kerakyatan yang dapat menyelamatkan ekonomi dalam jangka pendek. Pasalnya, krisis harga TBS dan karet dipercaya akan pulih kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama. ‘’Sebetulnya harus ada upaya yang pasti meningkatkan pendapatan masyarakat, walaupun untuk jangka pendek, itu harapan semua kami, sebab situasi sekarang sudah bahaya. Kemudian penyebab harga sawit turun perlu dicari dan dibicarakan dengan pemilik pabrik,’’ imbuhnya.

Menurut sejumlah sumber tokoh masyarakat di desa-desa, hal yang sama terjadi di semua kawasan penghasil TBS dan karet. Di Kecamatan Pangkalan Lesung, puluhan warga nasabah leasing berlomba-lomba menjajakan kendaraan kepada pihak lain. Ini dilakukan untuk menyelamatkan setoran uang muka (down payment/DP) kendaraan saja, sedangkan angsuran yang telah berjalan beberapa bulan sampai satu setengah tahun tidak lagi diharap kembali.

Pasalnya, pihak perusahaan leasing mulai intens menyebarkan surat teguran kepada nasabah. Kendati hanya berharap kembali DP, tidak mudah bagi warga menemukan peminat kendaraan mereka. Tokoh masyarakat setempat, Marhadi MR mengungkapkan, trend penjualan kembali kendaraan terjadi di setiap Satuan Pemukiman eks transmigrasi di Kecamatan Pangkalan lesung, Ukui, Kerumutan, dan Pangkalan Kuras. ‘’Penghasilan sawit dimana mana sama, tidak cukup. Makanya di semua desa, nasabah leasing nunggak. Daripada kendaraan ditarik, kembali DP saja jadilah,’’ungkapnya.

Menurutnya, penurunan uang yang beredar di masyarakat terukur. Pekan ini range penurunannya berada pada angka Rp1.800 per kilo, yakni dari Rp2.000 pada dua bulan lalu, menjadi hanya Rp200 pekan ini. Pada beberapa desa di Kabupaten Pelalawan, harga TBS lebih buruk lagi, antara Rp100-Rp150 saja per kilogram. Begitu juga karet, turun cukup jauh dari rata-rata Rp12 ribu menjadi Rp4000 per kilogram, berarti terjadi pengurangan pendapatan masyarakat sebesar Rp8000 pe kilogram karet.(uli)

Senin, 20 Oktober 2008

Harga Sawit dan Kopra Anjlok jadi Pelajaran

Senin, 20 Oktober 2008 | 08:46 WIB
TEMBILAHAN--Harga sawit dan kelapa yang drastis turun beberapa hari belakangan, setidaknya menjadi pelajaran berarti bagi masyarakat yang melakukan alih fungsi lahan selama ini. Karena ternyata, tidak selamanya harga sawit akan stabil. Kondisi ini memunculkan dampak negatif, selain lahan produktif semakin minim juga menimbulkan kerugian bagi petani yang sudah terlanjur melakukan alih fungsi lahan.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Ir H Kuswari MP kepada Riautoday.com, Sabtu (18/10).

‘’Kita melihat kerugian yang dialami petani sawit saat ini sangat memperihatinkan. Distan selalu memberikan masukan agar penanaman sawit tidak sampai menyebabkan lahan yang ada di Kabupaten Inhil dialihfungsikan,’’ kata dia.

Ia juga mengajak, agar mulai saat ini masyarakat benar-benar memperhatikan lahan yang masih produktif agar tidak lagi dialihfungsikan menjadi kebun sawit.

‘’Kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan harga sawit, apakah akan naik atau tetap begini. Jika masih saja begini, petani sawit akan semakin terpuruk,’’ kata dia.

Sebelumnya, Distan memang memprediksi bahwa lahan alih fusngsi di Inhil memang akan terus bertambah. Namun, paling tidak dengan kondisi harga sawit saat ini, petani bisa memikirkan dan tetap mempertahan kan lahan nya ditanami padi.(n)

Rabu, 15 Oktober 2008

Sawit Cuma Rp350 per Kg, Gubri Bakal Lapor Presiden

Sawit Cuma Rp350 per Kg, Gubri Bakal Lapor Presiden
Rabu, 15 Oktober 2008 | 09:28 WIB
PEKANBARU--Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Riau, semakin menyakitkan hati petani. Di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) harga TBS sawit rakyat anjlok hingga Rp350 per kilogram. Sementara di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) hanya Rp375 per kilogramnya. Di Kabupaten Siak harga sawit tak jauh beda, berkisar antara Rp400 sampai Rp500 per kilogram. Padahal sebelumnya, harga di atas Rp2.800 per kilogram.
Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Riau Drs Edyanus Herman Halim MSi kepada Riau Pos, Selasa (14/10) menyebutkan, dirinya mengaku mendapat laporan dari petani sawit di Kuansing harga saat ini jatuh sudah pada Rp350 per kg. Karena itu Edyanus mengingatkan Gubernur Riau segera agar mengumpulkan sejumlah pengusaha sawit, Kadin, kepala dinas untuk kembali mempertahankan harga sawit rakyat pada harga yang pantas. ‘’Pemerintah harus segera mengumpulkan pengusaha perkebunan, pengusaha CPO, pemilik pabrik dan Kadin, agar menetapkan harga sawit yang adil untuk petani sawit di kampung, sehingga harganya tidak jauh beda dengan sawit perkebunan inti,’’ ujar akademisi di Universitas Riau ini.

Sebenarnya, kata Edyanus, harga sawit tidak akan terlalu murah, jika pemerintah mau membangun pabrik minyak goreng, mentega, biofuel (solar dan oli) atau sejumlah industri hilir dari pengolahan sawit. ‘’Kita heran, harga minyak goreng tetap tinggi, tapi harga sawit kok turun drastis. Lebih baik kita bangun saja pabrik minyak goreng di Riau ini. Kalau cuma satu di Dumai pabrik minyak goreng saya kita itu tidak cukup,’’ jelasnya.

Dari Tembilahan, Kadisperindag Inhil H Masdjuri Hasan dan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Inhil, Syafrinal Hedy mengakui kondisi harga sawit saat ini memang sedang anjlok di daerahnya. Bahkan produk-produk perkebunan lainnya, seperti kelapa dan karet, juga tengah turun drastis harganya.

‘’Fenomena harga anjlok ini sudah terjadi sejak beberapa waktu belakangan ini. Memang harga komoditi perkebunan kadang-kadang mengalami kenaikan dan ada pasang surutnya juga. Namun kondisi harga yang terjadi saat ini sangat tidak masuk akal dan memperihatinkan petani. Mereka sangat dirugikan dengan kondisi saat ini, karena kerja dengan hasil yang didapatkan tidak sebanding,’’ jelas Masdjuri.

Sementara itu, belasan petani sawit di Desa Kuala Gasib, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, juga mengeluhkan harga sawit yang sudah sangat rendah tersebut. Salah seorang petani di Koto Gasib, Abdul Jalil menyebutkan, harga buah sawit saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, yakni antara Rp400 sampai Rp500 per kilogramnya.

‘’Penurunan harga sawit hingga harga terendah, membuat kami para petani di Koto Gasib ini semakin mengalami kesulitan. Namun kami tetap panen meski akhirnya penghasilan kami minim dan tidak memadai,’’ jelas Abdul Jalil, Selasa (14/10), seraya berharap ada perhatian pemerintah agar harga buah sawit ini tidak turun terus dan dapat kembali normal hendaknya.

Abdul Jalil menyebutkan, kondisi petani sawit semakin sulit karena harga-harga pupuk juga terus mengalami peningkatan. Harga pupuk ditingkat petani terus mengalami kenaikan. Misalnya, NPK saat ini sudah mencapai Rp500.000 per karung, Urea Rp300.000 per karung dan KCL Rp400.000 per karung.

Lapor Presiden
Kondisi yang semakin memprihatinkan ini membuat Gubernur Riau Drs H Wan Abubakar MS MSi akan membawa permasalan ini ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kebetulan, sesuai radiogram Menteri Dalam Negeri nomor 080/3023/SJ tertanggal 10 Oktober 2008, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memanggil seluruh Gubernur se-Indonesia untuk mengadakan rapat koordinasi (Rakor), Rabu (15/10) pukul 14.00 WIB di ruang rapat gedung Sekretariat Negara Jakarta.

‘’Saya pasti hadir dan memang ini penting sekali. Selain mempersiapkan seluruh data kondisi keuangan dan kondisi daerah, saya juga akan sempatkan mengadukan beberapa hal yang saat ini dihadapi daerah kepada Bapak Presiden,’’ ujar Gubri kepada wartawan saat peninjauan longsor di Kampar, Selasa (14/10). ‘’Kita akan adukan semua kondisi riil petani sawit Riau dan minta perhatian serta jalan keluar terbaik dari pemerintah pusat bagi petani-petani kita di daerah,’’ lanjutnya.

Wan pun mengimbau, di tengah kondisi krisis ekonomi seperti saat ini, masyarakat diminta tetap tenang. Kepada pengusaha dan para spekulan, juga diingatkan untuk tidak mengambil keuntungan di tengah persoalan ekonomi bangsa saat ini.(afz/rpg/jrr/wik/n/fia)

Selasa, 07 Oktober 2008

Harga Sawit di Inhil Rp200/Kg

Selasa, 07 Oktober 2008 | 08:41 WIB
TEMBILAHAN--Baru saja membaik, mulai pekan lalu harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Indragiri Hilir (Inhil) kembali anjlok. Satu kilogram TBS hanya bernilai Rp300-Rp400, sangat jauh merosot dan tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan petani.

Untuk wilayah pedalaman yang cukup jauh dari jalan raya, seperti Desa Kuala Sebatu, Sei Raya di Kecamatan Batang Tuaka bahkan harganya lebih rendah lagi, hanya Rp200-Rp250 perkilogram.

Kondisi ini sangat memukul kehidupan petani, bahkan sudah ada petani yang enggan pergi ke perkebunan. Penurunan harga kali ini dinilai sangat luar biasa dan pergerakannya tidak pernah diduga sebelumnya. Cukup banyak petani yang tidak memanen sawit miliknya meski buah sawit telah matang.

‘’Lebih baik dikolak sajalah buah sawit kalau begini. Masa, ya harganya cuma Rp300 perkilogram, petani bisa apa kalau begini. Jangankan untuk membeli pupuk, pestisida dan upah membersihkan lahan, untuk makan saja tidak cukup. Bayangkan saja, satu onggokan sawit seberat 1 ton cuma bernilai Rp300.000,’’ kata Parulian (36), seorang petani sawit di Kecamatan Tempuling kepada Riautoday.com, Senin (6/10).

Kondisi ini berbanding terbalik dengan produksi TBS Inhil yang terus meningkat. Di sepanjang jalan raya, sangat mudah ditemukan onggokan TBS yang baru saja dipanen warga. Tetapi banyak pula di antara onggokan tersebut yang tidak diambil pembeli, karena harganya sangat murah.

Keluhan serupa juga disampaikan petani sawit lainnya. Banyak di antara petani yang kesal, namun tidak tahu mau menyampaikan kekesalah ini kepada siapa. Dua bulan lalu mereka sudah dapat menikmati kehidupan lumayan dari hasil kebun, namun kini situasi yang dihadapi justru sangat berat.

Terkait murahnya harga TBS, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Inhil Ir H Syafrinal Heddy MM kepada Riautoday.com, Senin (6/10) menyebut, semuanya disebabkan oleh pergerakan ekonomi dunia yang sedang lesu dewasa ini. Ditambah lagi dengan masa panen raya kelapa sawit di negeri jiran, membuat stok CPO demikian berlimpah. Hal itu termasuk faktor yang membuat harga TBS di Inhil dan daerah lainnya mengalami penurunan.

‘’Kepada petani sawit kami mohon untuk bersabar dan tetaplah serius merawat kebun. Saat ini harga komoditas tersebut memang sedang jatuh. Tetapi kita sangat optimis pada masa mendatang akan kembali mengalami peningkatan. Demikian juga dengan harga kelapa lokal, kita pun senantiasa optimis harganya bakal kembali mengalami perbaikan,’’ ucap Syafrinal Heddy.

Sementara itu, Kasubdin Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Riau, Ir Ferry HC MSi kepada Riau Pos menyebutkan bahwa rendahnya harga jual TBS bisa diakibatkan beberapa hal, di antaranya umur tanaman yang masih muda serta kualitas TBS yang tak bagus.

‘’Saat ini memang harga pasar TBS cendrung turun, namun tak serendah sampai Rp250-300 per kilogram seperti yang terjadi di Inhil. Bisa jadi harga TBS yang rendah tadi adalah hasil produksi dari tanaman yang berumur muda, atau kulitas TBS yang tak bagus,’’ ujar Ferry.(uli)